Laman

Jumat, 28 September 2012

Mengapa Guns N’ Roses Tak Pernah Mati?


DI ERA akhir 80-awal 90an, Anda boleh tak menyukai musik metal, tapi Anda tak bisa tak mengenal grup band Guns N’ Roses (GNR). Para ABG atau anak muda ketika itu adalah generasi-generasi Axl dan Slash, dan mereka bisa berada dimana saja dengan menenteng gitar, berkemeja panel kotak-kotak, serta bercelana pendek dan menyanyikan “Sweet Child O’ Mine”, “Don’t Cry”, atau “November Rain”. Bahkan mereka yang sudah terbina pun ketika itu, sedikit banyak pernah mendengar tentang GNR.

GNR, grup yang dibentuk oleh Axl Rose itu memang ‘dahsyat’ untuk ukuran bermusik. Nirvana atau Metallica boleh hadir, tapi hanya ada satu “The Most Dangerous Band in The World”, ya GNR itu. Ketika GNR pecah dan bubar jalan di tahun 1995, penggemar band ini frustrasi berat, dan terus menunggu karya GNR yang baru yang dibentuk oleh Axl—Axl memecat semua anggota bandnya dan mengganti dengan personil baru serta membeli semua hak cipta lagu-lagu mereka.

Walaupun Axl bukan seorang Yahudi, tapi ia adalah front man GNR. Dua bulan yang lalu, Axl mentas di Tel Aviv, Israel dan membawakan lagu kebangsaan Israel “Hatikva” dengan formasi GNR sekarang—entah sudah beberapa kali bongkar pasang.

Itu kedua kalinya GNR mentas di Tel Aviv, setelah 19 tahun yang lalu datang ke sana, ketika Axl dan GNR-nya ‘sangat berbahaya’.

“Saya bahagia bisa kembali ke sini,” ujar Axl yang sekarang sudah sangat tambun dan berusia 50 tahun.

Tapi jangan lupa, 19 tahun yang lalu pula, GNR dihujat habis karena lagunya “One in a Million,” yang disinyalir menghina kaum kulit hitam dan kaum gay. Kehebohan itu terus berlanjut, terutama didorong oleh cerita sampul Rolling Stone pada bulan Agustus. Sejak itu, Stone dan rasisme menjadi cerita panas, dengan GNR di atasnya.

Dalam iklan satu halaman penuh di surat kabar di Hollywood, Simon Wiesenthal Center bertanya pada industri musik: “Apakah kita, sebagai bangsa, tumbuh begitu apatis tentang bias rasial, agama dan seksual yang mulai merasuki masyarakat kita? … Bukankah sudah waktunya (industri musik) mengambil sikap tegas terhadap penyebaran bermoral kebencian dan kefanatikan?”

Apa yang jadi masalah di sini? Lagu Rose tersebut disebut-sebut sebagai lagu “anti-semit” atau “anti-Yahudi”. Namun, jangan lupa, sebagai seorang musisi, Axl Rose dengan band GNR-nya adalah nabi bagi jutaan umat manusia di kolong jagat. Semua yang dituturkan oleh Rose dalam lagu-lagu GNR sangat hebat membius, tak mengenal entah siapa dan dimana. Mungkin itu yang membuat GNR tak pernah mati sampai sekarang, walau album terakhir mereka “Chinese Democracy” jeblok secara musikalitas, dan tentu saja pemasaran. GNR akan terus ada, sepanjang mereka masih terus “laku dijual”, sama seperti halnya Madonna, Steven Spielberg, atau zaman Bruno Mars dan Lady Gaga seperti sekarang. [sa/islampos]

sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda sudah kami tunggu tunggu....